Kategori: Artikel
Published February 10, 2026

Dunia penelitian saat ini sedang terjebak dalam sebuah kontradiksi moral yang akut. Di satu sisi, digitalisasi menjanjikan akses informasi tanpa batas; namun di sisi lain, hasil pemikiran manusia justru sering kali terkunci rapat di balik paywall  komersial yang mahal atau jeratan biaya publikasi (Article Processing Charges /APC) yang membebani peneliti. Pengetahuan, yang seharusnya menjadi milik publik, telah berubah menjadi komoditas eksklusif yang memperlebar jurang ketimpangan antara institusi kaya dan miskin.

Namun, arus balik sedang menguat melalui gerakan Diamond Open Access (DOA). Fenomena Diamond OA bukan sekadar perubahan teknis dalam industri penerbitan, melainkan sebuah klaim ulang atas kedaulatan pengetahuan yang selama ini terfragmentasi. Dalam model ini, pembaca tidak membayar untuk mengakses ilmu, dan penulis tidak membayar untuk menerbitkannya. Dengan momentum  3rd Global Summit on Diamond Open Access di Bengaluru 2026, dunia sedang bersiap menghadapi pergeseran paradigma yang akan meruntuhkan tatanan lama.

Berikut adalah lima disrupsi besar yang menandai kebangkitan kedaulatan ilmiah global:

1. Kepemimpinan Global South

Anggapan bahwa inovasi publikasi selalu berpusat di Utara Global adalah mitos yang mulai usang. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pemimpin volume publikasi Diamond OA justru datang dari negara-negara seperti Indonesia dan Iran.

Indonesia telah menjadi mercusuar dunia dengan mengelola lebih dari 2.500 jurnal yang terindeks di DOAJ. Melalui model  “University-as-Publisher”, institusi pendidikan di Indonesia membuktikan bahwa universitas dapat berperan langsung sebagai jangkar desiminasi pengetahuan non-komersial. Keberhasilan ini juga diperkuat secara regional oleh platform seperti  NepJOL (Nepal Journal Online) yang mengelola 566 jurnal, memberikan panggung bagi ribuan artikel ilmiah yang selama ini terpinggirkan.

Namun, keberhasilan ini masih terbentur pada “Jurang Indeks”. Ribuan jurnal berkualitas dari Indonesia dan sekitarnya sering kali dianggap “tidak terlihat” karena sistem evaluasi Barat yang path-dependent atau sangat bergantung pada metrik komersial seperti Scopus dan Web of Science. Padahal, sebagaimana ditegaskan dalam Barcelona Declaration, keterbukaan informasi riset adalah prasyarat mutlak bagi kebijakan strategis yang transparan. Kita harus berhenti memandang Global South sebagai pihak yang “mengejar ketertinggalan” dan mulai melihat model non-komersial ini sebagai cetak biru masa depan.

2. Ilmu Pengetahuan sebagai Hak Dasar

Amerika Latin telah mempraktikkan “Jalur Diamond” selama lebih dari tiga dekade. Melalui organisasi seperti CLACSO dan kepemimpinan visioner seperti Saray Córdoba González, wilayah ini membangun infrastruktur publik skala besar yang menolak komersialisasi sains. Bagi mereka, Diamond OA adalah sebuah Sovereign Strategy (Strategi Kedaulatan) untuk melawan ketergantungan pada penerbit komersial Utara yang menyedot dana publik ke tangan pemegang saham asing.

Inspirasi gerakan ini berakar pada semangat Eva Circé-Côté , seorang pustakawan, penulis, dan pemikir bebas yang memperjuangkan akses pengetahuan bagi kaum marginal. Filosofinya kini menjadi nyawa bagi jaringan  Réseau Circé  di Quebec dan strategi kedaulatan CLACSO:

“Pengetahuan, seperti air, harus dapat diakses oleh semua orang.” —  Eva Circé-Côté

Gerakan ini menuntut penerapan Sovereign Assessment Criteria (Kriteria Penilaian Berdaulat). Evaluasi peneliti harus bergeser dari sekadar mengejar  Impact Factor  komersial menuju  Local Utility  (kegunaan lokal). Riset tentang sanitasi di pemukiman padat atau energi terbarukan lokal harus dinilai lebih tinggi karena dampaknya langsung pada  Sustainable Development Goals  (SDGs), bukan sekadar jumlah sitasi global. Inilah yang kita sebut sebagai  Bibliodiversity —pengakuan terhadap keberagaman bahasa, topik, dan relevansi lokal dalam sains.

3. Jurnal “Overlay” dan Dokumentasi sebagai Publikasi

Kejutan teknis terbesar muncul dari inovasi yang melampaui dokumen PDF statis. Model  “Overlay Journal”  (seperti platform  Episciences ) kini mulai mendisrupsi proses tradisional dengan memisahkan fungsi pengarsipan dari sertifikasi. Peneliti mengunggah karya mereka ke repositori terbuka seperti  arXiv  atau  Zenodo  untuk diseminasi instan, sementara jurnal Diamond bertindak sebagai lapisan sertifikasi melalui  peer-review  tanpa harus menghosting konten secara eksklusif.

Di bidang teknik dan AI, muncul konsep  “Micropublications” . Daripada menunggu narasi panjang yang memakan waktu tahunan, peneliti dapat menerbitkan unit terkecil seperti dataset, kode, atau modifikasi perangkat keras sebagai unit yang dapat disitasi secara mandiri.

Lebih jauh lagi, prinsip  “Documentation as Publication”  dalam standar  Open Hardware  (seperti CERN OHL) memastikan bahwa file CAD dan  Bill of Materials  (BOM) dipublikasikan secara terbuka. Hal ini berfungsi sebagai  Prior Art  yang mencegah paten agresif menghambat inovasi, sekaligus mempermudah transfer teknologi ke Usaha Kecil Menengah (UKM) dan komunitas di Global South.

4. Pendanaan Kreatif: Keamanan Rantai Pasok Pengetahuan

Tantangan terbesar Diamond OA bukanlah teknologi, melainkan tata kelola dan investasi publik yang berkelanjutan. Dunia mulai meninggalkan model hibah berbasis proyek yang rapuh dan beralih ke model pendanaan kolektif yang lebih cerdas.

Model PendanaanMekanisme UtamaFilosofi Utama
SCOAP3-EKontribusi dari aliansi perusahaan teknik global.Pengetahuan teknik dianggap sebagai bagian dari “keamanan rantai pasok” industri.
Linux Foundation ModelPerusahaan kompetitor mendanai infrastruktur non-profit bersama.Infrastruktur pengetahuan adalah barang publik yang menopang inovasi seluruh ekosistem.
SCOSSKoalisi global untuk menggalang dana infrastruktur terbuka.Menjaga keberlangsungan layanan vital seperti DOAJ dan PKP melalui solidaritas institusional.

Hingga saat ini,  SCOSS telah berhasil menggalang lebih dari  $8,8 juta  untuk menopang infrastruktur sains terbuka. Ini membuktikan bahwa keberlanjutan Diamond OA adalah masalah kemauan politik dan tata kelola investasi, bukan ketiadaan dana.

5. Infrastruktur Digital Publik India: Kekuatan Baru yang Inklusif

Sebagai tuan rumah Global Summit 2026, India memperlihatkan bagaimana  Public Digital Infrastructure (PDI)  dapat mengubah wajah sains. Lembaga seperti  CSIR-NISCPR  telah mengelola 15 jurnal terindeks tanpa biaya publikasi sedikit pun, termasuk jurnal dalam bahasa lokal seperti  BVAAP  (jurnal bahasa Hindi) untuk menjaga identitas linguistik dalam sains.

Sektor agrikultur India juga memimpin melalui  DKMA  (Directorate of Knowledge Management in Agriculture) dengan platform  Krishikosh  yang mengelola koleksi tesis pertanian terbesar di dunia. Inovasi ini mencapai puncaknya pada platform  “Kisan Sarathi” , sebuah sistem penasihat agrikultur digital multibahasa yang menjembatani hasil riset laboratorium langsung ke tangan petani di lapangan secara autentik. Ini adalah bukti nyata bahwa akses terbuka Diamond OA mampu memotong jalur birokrasi pengetahuan untuk kesejahteraan masyarakat.

Penutup: Menuju Ekosistem yang Terintegrasi

Masa depan Diamond OA bergantung pada interoperabilitas global. Kita membutuhkan  Persistent Identifiers (PIDs)  seperti DOI sebagai “jangkar digital” yang memastikan setiap butir pengetahuan dapat ditemukan dan dilacak secara permanen tanpa bergantung pada platform komersial.Jika Indonesia, India, dan Amerika Latin mampu membuktikan bahwa sains berkualitas tinggi bisa tetap gratis, inklusif, dan berdaulat, lantas apa alasan bagi negara-negara lain untuk tetap bertahan dalam sistem berbayar yang eksklusif dan diskriminatif? Kendali ilmu pengetahuan harus kembali ke tangan komunitas akademik, demi masa depan yang lebih adil bagi kemanusiaan.

Penulis: Ikhwan Arief