Kategori: Berita
Published May 7, 2026

Padang (LPPM Unand), 07 Mei 2026 — Universitas Andalas bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar Forum Group Discussion (FGD) dan workshop penyusunan program pengabdian kepada masyarakat sebagai langkah kolaboratif dalam mendukung pemulihan wilayah terdampak bencana galodo di kawasan Kuranji, Kota Padang.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 4 Mei 2026 di LPPM Universitas Andalas tersebut difokuskan pada penyusunan program pemulihan daerah pascabencana, khususnya di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kuranji yang mengalami kerusakan cukup serius akibat bencana pada akhir November 2025 lalu.

Workshop dan diskusi ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari unsur akademisi, pemerintah daerah, hingga lembaga pengelola lingkungan. Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Pelaksana Kegiatan Prof. Endah Sulistiyawati dari SITH-ITB, Ketua LPPM Universitas Andalas Prof. Dr. Marzuki, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Bukit Barisan Unit V, Forum DAS Sumbar, Bappeda, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumatera Barat, Forum DAS Sumatera Barat, PMU Program RIMBA, serta Satgas Universitas Andalas.

Dalam forum tersebut, berbagai hasil survei lapangan dipaparkan untuk menggambarkan kondisi terkini DAS Kuranji dari wilayah hulu hingga hilir. Tim peneliti dan satgas menyampaikan bahwa kondisi kawasan masih cukup memprihatinkan dan berpotensi menimbulkan bencana serupa ketika memasuki musim hujan berikutnya. Anggota Satgas Universitas Andalas, Prof. Aprisal, menjelaskan bahwa aliran Sungai Kuranji hingga saat ini masih bercampur lumpur dan sedimen akibat dampak longsor serta banjir bandang. Selain itu, struktur aliran sungai juga belum kembali terbentuk secara sempurna setelah mengalami kerusakan berat akibat galodo.

“Aliran sungai yang sebelumnya rusak akibat galodo sampai saat ini masih belum terbentuk secara sempurna. Kondisi air juga masih bercampur lumpur sehingga memengaruhi kualitas lingkungan dan kebutuhan masyarakat,” jelasnya.

Diskusi turut mengungkap sejumlah faktor yang diduga menjadi penyebab utama terjadinya bencana. Berdasarkan hasil identifikasi Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Agam Kuantan, ditemukan titik longsor yang berada sekitar 11 kilometer dari kawasan kampus Universitas Andalas. Lokasi tersebut diketahui memiliki tingkat kemiringan tanah yang cukup tajam dan berada dalam kondisi cuaca ekstrem pada saat kejadian. Curah hujan tinggi menyebabkan struktur tanah tidak lagi mampu menopang vegetasi di kawasan hutan sehingga memicu longsor besar yang kemudian membelah aliran Sungai Kuranji. Sisa material longsor hingga kini masih memengaruhi kondisi sungai dan menyebabkan air tidak jernih. Dampak lanjutan dari kondisi tersebut membuat masyarakat di sekitar kawasan terdampak mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

Pemerintah daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup Sumatera Barat disebut masih terus melakukan penyaluran bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak. Ketua LPPM Universitas Andalas, Prof. Dr. Marzuki, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas institusi ini diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan kawasan terdampak sekaligus menghasilkan model penanganan yang dapat diterapkan di wilayah lain di Sumatera Barat. Menurutnya, kegiatan pengabdian masyarakat berbasis riset dan kolaborasi menjadi langkah penting dalam mendukung mitigasi serta pemulihan pascabencana secara berkelanjutan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Universitas Andalas dan ITB dalam memperkuat sinergi akademik dan pengabdian masyarakat guna mendukung pemulihan lingkungan, pengurangan risiko bencana, serta peningkatan ketahanan wilayah di Sumatera Barat.

Humas LPPM
Universitas Andalas